pegunungan muria dilihat dari timur laut

Pegunungan muria dilihat dari Timur Laut

Pagi ini, matahari belumlah beranjak dari tidurnya. Hanya sinar temaram fajar yang menyisakan kabut dan mendung yang menggayut di ufuk timur. Ya, pagi ini memang cuaca agak kurang menyenangkan sehabis hujan semalam. Heran. Walaupun sudah seharusnya musim kemarau menjelang dari beberapa bulan yang lalu tetapi hujan masih enggan untuk meninggalkan bumi Indonesia. Namun dengan sedikit keengganan kupacu motorku meninggalkan desa itu. Desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan dengan segala kasih sayang dan kemampuan orang tuaku.

Mesin kendaraan yang aku tumpangi menderu berlomba dengan tetes-tetes hujan pagi ini. Hanya dengan satu tekad dan tujuan kuputar setang gas motorku. Ya, kembali ke kota untuk bekerja adalah rutinitas yang kini menjadi bagian hidupku. Mungkin inilah salah satu gambaran protret kehidupan di desa terpencil yang nun jauh dari keramaian kota dan juga “jauh” dari lapangan kerja.
Mungkin inilah yang menjadi salah satu faktor arus urbanisasi yang pantang kendur namun tetap melaju dengan angkuhnya membebani kota-kota besar. Tapi mau berkata apa lagi kalau kebayakan lapangan kerja berada di kota dan yang tersedia di desa hanyalah pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan “otot” balaka.

Hujan masih tak hentinya mengucur membasahi jalanan beraspal yang sudah berlobang disana -sini. Yeah, perjuangan ini menjadi semakin bertambah berat karena harus lebih jeli melewati lobang-lobang dijalanan. Dan akhirnya sampailah aku ke tempat tujuan dan kini pertarungan yang lain akan segera dimulai….